Categories
Relationship

Mengatasi Rasa Cemburu dalam Hubungan Romantis

Tips Elegan Mengatasi Rasa Cemburu dalam Hubungan Romantis

Mengatasi Rasa Cemburu dalam Hubungan Romantis – Ada yang beranggapan bahwa rasa cemburu adalah bumbu dari sebuah hubungan asmara. Perasaan ini sih katanya muncul karena ada rasa memiliki terhadap pasangan kita. Saat menjalin hubungan dengann pasangan, kamu pasti pernah merasa cemburu.

Hal ini wajar, apalgi kamu memiliki perasaan yang kuat terhadap pasanganmu. Sesekali rasa cemburu ini datang dalam hubunganmu, tidak apa-apa, malah bisa membuat sedikit kegembiraan dan tanda pasangan sangat menyayangimu.

Namun, bagaimana cara Daftar ID Poker IDNPlay menghadapi kalau rasa cemburu ini datang lebih sering dan lebih intens?

Tetaplah tenang menghadapi rasa cemburu yang datang

Saat rasa cemburu datang, jangan terburu-buru marah pada pasanganmu. Ratson juga memintamu untuk tetap tenang dan membuka hatimu seutuhnya untuk pasanganmu sehingga kamu juga harus menerima risiko yang akan datang tanpa keraguan dan kecemburuan.

Ingatkan dirimu sendiri akan kelebihan yang kamu miliki

Selain kepada pasangan, kamu harus melihat ke dalam dirimu alasanmu merasa cemburu. Dilansir PsychCentral, Christina Hibbert, Psikolog Klinis, mengatakan bahwa dengan melihat kembali kelebihan yang kamu miliki, kamu menyadari bahwa semua orang memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda sehingga tidak perlu merasa cemburu.

Mengingat kembali kelebihanmu, juga membuatmu lebih mencintai diri sendiri dengan menyadari value yang kamu miliki. Hal ini juga bisa meningkatkan rasa percaya dirimu.

Jangan menindaklanjuti perasaan cemburu itu

Masalah sebenarnya dari rasa cemburu adalah tindakanmu atas dasar rasa cemburu. Dilansir Huffpost, Moshe Ratson, Terapis Pernikahan dan Keluarga, mengingatkan bahwa di dunia ini banyak orang dengan lawan jenis dan pasanganmu telah memilihmu sebagai pasangannya. Jadi, ketika perasaan itu datang cobalah mengubah cara pandangmu dan lebih bijak dalam menanggapinya.

Ekspresikan kecemburuanmu dengan lebih lembut

Ketika pasanganmu melakukan sesuatu yang membuatmu cemburu, ungkapkanlah perasaan itu dengan cara yang dewasa. Dalam interviewnya dengan Huffpost, Ratson menyarankan untuk berterus terang kepada pasanganmu bahwa kamu mempercayainya, tapi kamu tidak dapat mengendalikan perasaan ini dan memintanya untuk mempertimbangkannya.

Belajar untuk mengelola emosimu

Mengelola emosimu adalah hal yang penting. Dilansir PsychCentral, Kathy Morelli, Psikoterapis, mengatakan bahwa penting untuk bisa mengidentifikasi perasaanmu dan melepaskan dirimu dari intensitas emosi. Kamu juga bisa mempraktikkan latihan pernapasan untuk mengeluarkan emosi itu dengan lebih positif.

Itu dia hal yang kamu bisa lakukan kalau kamu merasa cemburu. Kamu harus mengkomunikasikan dengan jelas perasaan itu agar pasanganmu mengerti.

Categories
Relationship

Prioritaskan Hal Ini untuk Dirimu 

Meski Menjalin Hubungan, Tetap Prioritaskan Hal Ini untuk Dirimu

Prioritaskan Hal Ini untuk Dirimu – Di sekitar kita masih ada aja yang beranggapan kalau perempuan gak bisa lepas dari bantuan orang lain. Terkadang, saat kamu memprioritaskan diri sendiri dalam hubungan, terlihat egois di mata pasanganmu.

Namun, menjalin hubungan bukan berarti kamu harus selalu mendahulukan hubungan dan idn poker deposit pulsa 10000 berkompromi terus menerus. Menjadi egois dalam hal tertentu tidak selalu buruk, kok.

Yuk, simak apa saja hal yang sebaiknya kamu prioritaskan untukmu sendiri, meski sudah menjalin hubungan!

Kebahagiaanmu

Kalau hubunganmu menjauhkanmu dari hal-hal yang membuatmu bahagia, kamu sebaiknya mengakhirinya. Brown mengatakan bahwa menjalin hubungan seharusnya meningkatkan kebahagiaanmu dan bisa berbagi kebahagiaan itu bersama. Namun, tak selamanya bahagia ada bersama pasangan, kamu juga harus tetap mengeksplorasi hal di luar hubungan yang membuatmu senang.

Caramu ingin diperlakukan

Tidak ada yang sempurna dalam suatu hubungan. Pasanganmu bisa saja tidak memenuhi ekspektasimu dalam memperlakukanmu. Dilansir DailyMail, Casey Totenhagen dan Timnya, kelompok peneliti di Arizona, menemukan bahwa pasangan tidak bisa selalu memenuhi kepuasan pasangannya, terutama saat keduanya sedang stres dan lelah. Kamu bisa saling mengomunikasikan caramu ingin diperlakukan agar lebih memahami lagi.

Kemandirianmu

Pada awal hubungan, kamu pasti sulit untuk mengukur kapan waktu untukmu sendiri. Kamu terlarut dalam hubungan sehingga lupa kamu juga memiliki kehidupan di luar hubunganmu.

Dilansir Mind Body Green, Laura Brown, Konselor Intuitif, mengatakan bahwa hubungan langgeng biasanya diawali dengan selalu ingin selalu menghabiskan waktu bersama, tapi seiring berjalannya waktu pasangan juga akan menjadi lebih tenang dan tahu kapan me time untuk diri sendiri.

Mimpi dan cita-citamu

Melihat pasangan mengejar impiannya adalah hal yang menyenangkan. Kamu bisa memperhatikan sisi fokusnya dalam bekerja dan mengejar ambisinya. Laura Brown menyampaikan bahwa pasangan yang mengejar impiannya seperti ia meliaht hal baru dan penuh rasa ingin tahu. Kamu sebagai pasangan bisa mendukung hal itu dan jangan lupa mengejar mimpimu sendiri, ya.

Caramu berpakaian

Pasanganmu tidak berhak mengatur caramu berpakaian. Kamu bisa mengenakan apa pun yang kamu inginkan selama kamu nyaman mengenakannya. Kalau pasanganmu mulai membatasi apa yang kamu kenakan, kamu bisa menanyakan alasannya terlebih dahulu. Namun, kalau terlalu mengada-ada, sudahi saja hubungan itu sebelum ia mengatur seluruh hidupmu.

Itu dia hal yang sebaiknya kamu prioritaskan untuk dirimu sekalipun sudah menjalin hubungan. Ada beberapa hal yang harus kamu dahulukan untuk dirimu selain hubunganmu dan pasanganmu.

Categories
Relationship

Masih Sering Insecure sama Hubungan Kamu?

Masih Sering Insecure sama Hubungan Kamu? Sadari Sebelum Jadi Kronis

Masih Sering Insecure sama Hubungan Kamu?Insecure adalah istilah untuk menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri.

Semenjak isu kesehatan mental mulai mendapat tempat, kata insecurity sepertinya cukup dekat di telinga generasi muda saat ini. Dalam psikologi klinis, insecurity yang dialami oleh seseorang, maupun hubungannya bersama pasangan, erat kaitannya dengan gaya pengasuhan oleh caregiver di awal masa tumbuh.

Selain itu, faktor terkait insecurity termasuk pada self-esteem yang rendah dan pola asuh anxious attachment. Kabar baiknya, setiap orang punya kesempatan sama untuk mengatasi masalah ini. Berikut IDNPlay Deposit Pulsa 10000 beberapa penjelasan ahli, saran, serta penerapannya dalam suatu hubungan.

Salah satu cara mengatasi insecurity adalah dengan meningkatkan self-awareness

Menurut psikolog klinis, Leslie Becker-Phelps, kunci dalam hubungan yang sehat adalah meningkatkan awareness. Becker-Phelps mengawali kesadaran dengan lebih terkoneksi terhadap diri dan orang-orang di sekitar, yang mana bisa digali lagi dengan hal-hal seperti berikut ini:

  • Sensasi yang kamu alami pada tubuh, di mana akan membantu mengetahui apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu pikirkan saat itu;
  • Pikiran tentang dirimu atau pasangan, yang berpengaruh pada emosi dan sensasi;
  • Emosi yang kamu alami, menurut Becker-Phelps, perlu dikategorikan secara lebih spesifik. Alih-alih kamu bilang ‘aku kesal’, kamu bisa memecah jadi emosi yang lebih akurat seperti ‘sedih’, ‘marah’, atau ‘bersalah’. Bagaimana kamu merasakan emosi tertentu juga dipengaruhi oleh pikiranmu;
  • Pola hubungan dari waktu ke waktu, yang mana mempengaruhi pengalaman dan kepercayaan diri.

Alih-alih melihat kekurangan, fokus saja pada kelebihan yang kamu punya

Saat kamu merasa insecure, kamu barangkali lebih fokus pada kekurangan. Padahal di waktu yang sama, hubungan adalah tentang dua orang yang memiliki kualitas serta kekuatan untuk saling menopang. Agar merasa aman dengan hubungan yang sedang kamu rajut, kenali dulu kelebihan kamu.

Dilansir Psychologytoday, psikolog dan penulis, Jennice Vilhauer, memberikan beberapa bocoran mengenai bagaimana orang mengelola insecurity dalam hubungan. Salah satunya adalah mengenali dan percaya pada nilai hidup yang kamu punya.

Insecurity dalam hubungan bisa jadi berakaitan dengan pendekatan pola asuh semasa kecil

Dilansir Psychcentral, Margarita Tartakovsky, mengatakan bahwa jika seseorang mengalami rasa tidak aman terhadap hubungan yang sedang dijalani, sering cemas, kesepian dan jealous, kemungkinan orang tersebut memiliki anxious attachment. Anxious attachment juga dijelaskan oleh Tartakovsky dengan tanda ketika pasangan mulai mengomentari tentang perilaku needy atau clingy.

Dalam hal ini, anxious attachment menurut Tartakovsky, merujuk pada pola asuh semasa kecil. Beberapa bayi menerima perhatian yang tidak konsisten, padahal pada masa krusial ini, mereka masih membutuhkan perawatan penuh untuk tumbuh hingga bisa survive.

Namun Anxious attachment bukan sesuatu yang permanen. Jika kamu mengalami hal yang sama, kamu masih bisa meningkatkan self-wareness dan self-campassion untuk membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan dirimu maupun dengan pasangan.

Dengan self-campassion dan self-awareness, muncul kenyamanan pada diri, yang membantu terkoneksi secara lebih aman dengan pasangan

Sementara itu, self-compassion bisa kamu mulai dengan melakukan perubahan secara personal. Contoh sederhananya adalah saat kamu terbiasa mengkritik dirimu terlalu keras, mulai sekarang kamu dapat ubah dengan kata-kata yang lebih suportif.

Barangkali melakukan cara ini terdengar sedikit ‘gila’. Namun, kerap kali afirmasi positif diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kalau bukan kamu yang lebih perhatian terhadap dirimu, lantas mau menunggu siapa lagi? Berharap pada orang lain hanya menghabiskan waktu, terlebih ketika kamu sudah terlalu lama menengadah dan tidak ada yang mengulurkan tangannya.

Dengan self-campassion dan self-awareness, muncul kenyamanan pada diri, yang mana akan membantu kamu terkoneksi secara aman dengan pasangan. Lanjut lagi, penulis dari buku Insecure in Love: How Anxious Attachment Can Make You Feel Jealous, Needy, and Worried and What You Can Do About It ini, mengatakan bahwa ketika kamu sudah bisa menerapkan cara tersebut, kamu dapat mengomunikasikan apa yang kamu butuhkan dengan lebih jelas. Secara emosional, hubungan dengan pasangan menjadi lebih intim dan sehat.

Berada dalam suatu hubungan, tak lantas membuatmu kehilangan sisi independen diri

Hubungan yang sehat melibatkan dua orang yang sehat pula. Namun sering kali, hubungan romantis mengaburkan batasan dan apa yang sebenarnya kamu inginkan. Maka dari itu, mengelola identitas diri menjadi penting untuk membentuk keseimbangan dalam hubungan.

Vilhauer menempatkan pentingnya independen diri pada urutan berikutnya. Menurutnya, menjadi seseorang yang antusias terhadap tujuan hidup terlihat lebih atraktif bagi pasangan.

Insecurity dalam hubungan romansa bisa muncul pada siapa saja. Meski begitu, kamu masih bisa mengelola ini dengan cara yang lebih adaptif demi terciptanya hubungan jangka panjang yang sehat.

Categories
Relationship

Bahagia Punya Peran pada Hubungan yang Langgeng

Studi Menemukan Rasa Bahagia Punya Peran pada Hubungan yang Langgeng

Bahagia Punya Peran pada Hubungan yang Langgeng – Menjalani pernikahan, setiap pasangan suami-istri harus memiliki dua hal dalam hubungan mereka agar pernikahan bisa bahagia dan langgeng hingga tua. Banyak orang mungkin penasaran, apa yang bisa membuat pernikahan bahagia dan langgeng?

Setiap orang punya kesempatan hidup bersama dengan orang yang dicintai. Namun, tidak setiap dari mereka bisa mendukung. Tak hanya pada tahap pacaran, pasangan yang telah bertahun-tahun menikah, pun belum tentu bisa bersama selamanya.

Sementara itu, ada pula kisah cinta dari kekasih yang mampu bertahan hingga maut. Sejalan dengan topik ini, kami mencari tahu apa saja indikator yang membuat hubungan bertahan lama. Berikut ulasan dari beberapa ahli dan hasil Live22 Indonesia studi tentang hubungan.

Salah satu hasil studi dari O’Leary menekankan pada  passion for life , di mana emosi yang kuat berperan penting dalam hubungan

Siapa sangka bahwa pemikiran sedikit obsesif terhadap pasangan, akan berdampak positif pada hubungan? Setidaknya, prinsip ini berlaku bagi perempuan.

Menurut penelitian O’Leary, dimensi lain dari indikator hubungan yang berjalan lama, menunjukkan pemikiran pemikiran obsesif pada pasangan. Perempuan tak begitu peduli di mana pasangannya berada saat itu. Mereka justru mengembangkan pemikiran obsesif yang masih dalam batas wajar.

O’Lear kuaty dan mengikuti juga  semangat hidup,  di mana emosi memengaruhi hubungan percintaan individu. Hubungan yang berlandaskan  gairah,  sering kali berkolaborasi bersama  gairah  dari hobi, bahkan aktivitas politik secara pribadi.

Otak kita dirancang sedemikian rupa untuk menerima respons yang sama kuatnya antara frekuensi hubungan asmara dengan hal-hal yang menarik bagi kita.

Jeli memilih topik yang penting untuk dibahas, menjadi salah satu rahasia pernikahan yang langgeng

Setelah menikah atau ketika dua orang hidup bersama, pasangan memang menemukan persamaan dalam beberapa hal. Namun pada satu waktu, tak bisa ditampik bahwa keduanya merupakan orang dengan karakter berbeda. Meski bukan perkara mudah, usaha untuk menyesuaikan itu, sebenarnya berlangsung melalui proses dari waktu ke waktu.

Melansir dari Psychcentral, Psikolog dan Ahli Kesehatan Mental, John Grahol, membagikan lima aspek rahasia dalam hubungan pernikahan. Ia menyarankan supaya lebih jeli dalam memilih topik bahasan yang perlu dibicarakan bersama pasangan.

Grahol memisalkan, apakah seseorang sungguh-sungguh ingin bertengkar karena hal kecil seperti siapa yang harus membersihkan kamar mandi, atau menyimpan energi untuk topik penting seperti kondisi keuangan, karier, atau pendidikan anak.

Begitu banyak pasangan bertengkar karena sesuatu yang tak perlu. Termasuk, ketika hal itu di luar dari konteks isu penting dalam hubungan.

Peneliti menemukan 12 analisis faktor yang menjadi penguat hubungan

Menurut jurnal Social Psychological and Personality Science (2012), psikolog Stony Brook University, K. Daniel O’Leary dan timnya, menyebutkan bahwa tak banyak orang yang masih saling mencintai dalam kurun waktu 10 tahun pernikahan. Namun O’Leary dan tim justru menemukan analisis faktor yang dapat menguatkan pernikahan pada mereka yang hubungannya langgeng.

Faktor penguat hubungan itu dibagi menjadi 12 dimensi, yang mana beberapa di antaranya adalah berpikir positif terhadap pasangan (baik saat bersama atau tidak), menunjukkan perhatian dan minat pada hubungan seksual, berbagi judul novel dan aktivitas menantang, hingga perasaan bahagia secara umum dalam diri seseorang.

Sementara itu, ada hal lain yang justru bisa menghambat hubungan pernikahan. Misalnya, bersikap needy

Dilansir lamarieeenfolie.com, psikolog dan penulis Esther Perel, menyebutkan bahwa bersikap terlalu membutuhkan pasangan adalah musuh dari hubungan romantis jangka panjang.

“Ketika aku melihat pasanganku melakukan apa yang menarik menurutnya, aku melihat dan memahami beberapa pemahaman baru, bahwa kita masih bisa saling terbuka dan berada di sisi satu sama lain. Jika kalian ingin mempertahankan hubungan, beri kesempatan pasangan melakukan apa yang mereka suka,” terang Perel.

Terlalu membutuhkan pasangan, yang dapat diartikan ketika kita mencari rasa aman dan stabilitas darinya, sikap ini akan menghalangi keberlangsungan hubungan itu sendiri. Namun saat kita tahu kapan waktunya bersikap independen, ini akan berdampak baik pada hubungan.

Lantas, apa saja faktor yang memengaruhi kepuasan pada hubungan yang langgeng dan bahagia?

Dilansir lamarieeenfolie.com, Antropolog Biologi dan Peneliti Senior dari The Kinsey Institute, Helen Fisher, memberikan temuan mengenai tiga elemen esensial neuro-kimia pada pada orang dengan kepuasan hubungan tinggi. Fisher melakukan scan otak dan hasil komponen itu terdiri dari empati, mengendalikan perasaan dan stres, serta mengembangkan pandangan positif terhadap pasangan.

Pada hubungan bahagia, individu mencoba memahami perspektif dari pasangan, alih-alih selalu bersikap membenarkan diri. Mengendalikan diri dalam hal ini, menurut Fisher, juga tentang mengontrol kata-kata yang keluar ketika kita marah, hingga aktivitas coping seperti pergi olahraga, membaca buku, atau bermain dengan hewan peliharaan.

Mencoba melihat pandangan positif dari pasangan, mungkin terdengar seperti ilusi positif. Namun pada saat tertentu, ini dibutuhkan untuk mengurangi pemikiran negatif.

Tidak ada pasangan yang sempurna di dunia. Meski demikian, hubungan yang sempurna dapat terwujud bersedia kita bersedia fokus pada hal yang penting. Latihan mempraktikkan  pola pikir  ini, bukan hanya baik untuk pikiran, melainkan juga untuk hubungan.